25 Sep 20:35

Akhirnya, Dedi Mulyadi Lolos dari Sekapan Teroris

Suasana tenang dan damai di Kompleks Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta, Jalan Gandanegara No. 25 mendadak tegang. Para pegawai tampak berlarian menyelamatkan diri. Sekelompok teroris rupanya berhasil menyandera Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi pada Kamis (31/8) pagi ini.

Kawanan teroris tersebut menyerang Bale Nagri, tempat berkantor pria yang kini gemar mengenakan peci hitam tersebut, suara tembakan yang berasal dari senjata laras panjang ditambah ledakan bom berdaya ledak rendah berhasil melumpuhkan para petugas Satuan Polisi Pamong Praja yang tengah berjaga.

Tidak hanya menjadikan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sebagai tawanan, kawanan teroris itu pun juga meminta tebusan uang senilai Rp100 Miliar.

Penguasaan akses vital kantor pemerintah tersebut rupanya tidak berlangsung lama. Sebanyak 30 pasukan khusus Kodam III Siliwangi dari Batalyon Yonif Raider 300/Brawijaya terlihat berusaha melumpuhkan serangan teroris yang dimaksud dengan menggunakan senjata lengkap dan bom asap, mereka berhasil merangsek masuk dan melakukan penyelamatan setelah terjadi baku tembak selama kurang lebih 30 menit.

Serangan teroris tersebut hanya merupakan simulasi pembebasan tawanan dan operasi penangkalan serangan teroris yang dilakukan oleh pasukan khusus dari Kodam III Siliwangi.

Komandan Batalyon Raider 300/Brawijaya Mayor (Inf) Herry Indrianto mengatakan pasukan yang dia gawangi merupakan pasukan khusus yang diperuntukan untuk operasi pembebasan tokoh penting yang menjadi tawanan seperti Presiden dan Wakil Presiden.

“Ini simulasi untuk meningkatkan kemampuan raider dalam pembebasan tokoh penting yang menjadi tawanan. Biasa pejabat atau bahkan Presiden dan Wakil Presiden,” katanya menuturkan.

Ketegangan nampaknya dirasakan secara pribadi oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Pasalnya, ia mengaku tidak diberitahu kepastian jam simulasi tersebut. Ia merasa terkejut saat desingan peluru tiba-tiba saja terdengar.

“Tadi itu sedang ngobrol dengan staff, tiba-tiba ada suara tembakan, lalu saya disergap teroris,” ujarnya.

Sebagai bagian dari warga Jawa Barat, Tokoh Nahdhatul Ulama Purwakarta itu pun merasa bersyukur karena Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya jauh dari potensi konflik bersenjata.

“Saya bersyukur dan bangga, ada TNI – POLRI yang selalu menjaga keamanan. Saya tidak bisa membayangkan jika tinggal di Negara konflik, Indonesia jauh dari konflik bersenjata,” pungkasnya. (*)