27 Jul 09:41

Hiasan Gapura Membuat Peringatan Hari Jadi Purwakarta Semarak

Suasana berbeda terlihat di sepanjang jalan protokol dan perkantoran di Kabupaten Purwakarta. Aneka hiasan sudah mulai mewarnai wilayah kota dan pedesaan sebagai bentuk partisipasi pegawai dan masyarakat dalam menyambut Hari Jadi Kabupaten ke 48 dan Hari Jadi Purwakarta ke 185. Seluruh hiasan tersebut terdiri dari anyaman bambu berupa Aseupan (alat untuk menanak nasi), Boboko (bakul nasi), Kohkol (kentongan) dan tak ketinggalan belahan bambu yang biasa digunakan untuk menyimpan beras perelek. Pantauan Humas Pemerintah Kabupaten Purwakarta Senin (25/7), Kalimat “Sampurasun” pada umbul-umbul yang terpasang.

Partisipasi masyarakat ini tak lepas dari kepatuhan pegawai dan warga terhadap imbauan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Anggun (20) warga asal Desa Wanakerta Bungursari misalnya, sangat terlihat antusias dan turut menghiasi gapura yang berada di wilayahnya. “Saya bersama-sama dengan aparat desa ikut juga menghias gapura pake anyaman-anyaman dari bambu, tidak perlu membeli kami pakai saja seadanya yang ada di dapur yang sudah tidak terpakai untuk masak, setelah di cat kembali kan jadi bagus lagi, lalu kami pasang”. Jelas Anggun kepada Humas Pemerintah Kabupaten Purwakarta.

Pegawai di lingkungan Kantor Sekretariat Daerah Purwakarta pun turut melakukan hal yang sama, dengan dibantu oleh para Tenaga Harian Lepas, mereka sudah terlihat menghias lingkungan kantor mereka sendiri. “Sudah sejak seminggu yang lalu sehabis jam kerja kami menghias lingkungan. Kami membuat replika ‘Leuit’ (lumbung pada khas sunda) dan ‘Kohkol’ atau kentongan”. Kata Suhandi selaku Kepala Bagian Umum pada Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta.

Sementara itu Bupati Purwakarta saat dihubungi di rumah dinasnya Jl Gandanegara No 25 mengatakan desain perkakas bambu yang biasa digunakan oleh masyarakat sunda pedesaan sengaja dia angkat untuk menjadi hiasan tematik dalam rangka peringatan Hari Jadi Purwakarta tahun ini. Ia menilai kelas menengah perkotaan pun sebenarnya merindukan nuansa kampung karena rata-rata mereka berasal dari kampung. “Unsur Peradaban Sunda selalu menjadi tema kami setiap tahun, sengaja kami memilih tema ini agar masyarakat kita “nineung”, mengenang masa lalunya dahulu seraya berusaha menghadirkannya kembali hari ini. Lihat boboko kan bisa ingat ‘sangu akeul’ (nasi yang dikipasi hihid, kipas khas sunda)”. Jelas Bupati yang akrab disapa Kang Dedi tersebut.

Selain itu Dedi pun berujar sektor ekonomi kreatif dapat terpromosikan dengan sendirinya dengan usungan tema etnik ini. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya pesanan perajin anyaman khas sunda dibeberapa wilayah—sebagaimana  rilis yang pernah dikirim oleh Humas Pemerintah Kabupaten Purwakarta sebelumnya—dengan omset peningkatan rata-rata sebesar 100%. “Perajin bambu kan sulit kita temukan, pasarnya pun terbatas, melalui Hari Jadi ini kan mereka dapat omset banyak”. Pungkas Dedi (*)

Tag