25 Sep 20:30

Kiai Ma'ruf : "Pengajaran Kitab Kuning di Purwakarta Harus Ditintaemaskan"

Kiai Ma'ruf : "Pengajaran Kitab Kuning di Purwakarta Harus Ditintaemaskan"

Ketua Umum MUI Pusat sekaligus Rais 'Aam Nahdhatul Ulama, Kiai Ma'ruf Amin hari ini Kamis (23/2) turut hadir dan memberikan sambutan dalam acara Launching Program Pendalaman Kitab al Qur'an dan Kitab Kuning bagi pelajar di Bale Maya Datar Purwakarta. 

Dalam sambutannya, keturanan ke 14 dari Syaikh Nawawi al Bantani tersebut mengatakan bahwa program unggulan yang terbilang baru di Jawa Barat bahkan di Indonesia ini harus ditintaemaskan dengan cara dibuat program yang sama di seluruh Indonesia. 

"Kalau santri diintelektualkan, itu sudah umum. Tetapi di Purwakarta, kaum intelektual disantrikan. Nah, ini saya kira harus ditintaemaskan, program ini harus menasional, bukan hanya di Purwakarta dan Jawa Barat," kata Kiai Ma'ruf. 

Kitab kuning, imbuh Kiai Ma'ruf, merupakan alat untuk melawan fundamentalisme sekaligus sekulerisme yang hari ini berkembang secara massif. Ia berujar, kitab kuning bukan hanya berisi tentang disiplin ilmu fiqih, akan tetapi juga mengajarkan sikap hidup kepada sesama, kasih sayang dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. 

"Hari ini kita berhadapan dengan fundamentalisme dan sekulerisme. Kalau anak-anak kita belajar kitab kuning sejak dini, habislah sudah kedua hal tersebut. Kitab kuning itu tidak melulu fiqih, melainkan cara berkasih sayang antar sesama juga diajarkan, sehingga kita bisa hidup damai," katanya menambahkan. 

Usai kegiatan launching, Kiai Ma'ruf didampingi oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sempat berkunjung ke SMPN I Purwakarta dan SDN I Nagri Kidul untuk melihat metodologi pengajaran kitab kuning yang telah dimasukan ke dalam kurikulum tersebut. 

"Silakan pelajari dengan tekun, seluruh ilmu kehidupan ada dalam kitab ini, jadilah intelektual yang nyantri, punya jiwa keindonesiaan dan kebangsaan yang kuat," ucap Kiai Ma'ruf di depan para pelajar. 

Pola pendidikan ala pesantren ini telah lama mengundang decak kagum Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sehingga ia mencoba menterjemahkan pola tersebut dalam kurikulum pendidikan di daerah yang ia pimpin. 

"Kitab Kuning itu sumber pengetahuan yang terbuka, bangsa eropa mengadopsinya dan mereka berhasil membangun peradaban yang luar biasa," ujar pria yang akrab disapa Kang Dedi tersebut. 

Mengenai cara penyampaian materi, Dedi juga sempat memberikan penjelasannya. Ia mengatakan bahwa kelas 1 sampai kelas 5 SD akan fokus pendalaman cara membaca kitab al Qur'an. 

Sementara, kelas 6 SD sampai seluruh kelas yang ada di SMP dan SMA akan fokus terhadap cara membaca dan pemahaman kitab kuning. 

"Jadi nanti itu, kelas 1 sampai kelas 5 SD fokus baca Qur'an dulu, mulai kelas 6 SD dan seterusnya sudah bisa kitab kuning. Metoda nya kan bisa di dalam kelas juga bisa sistem 'balaghan' ala pesantren, guru kitab kuning nya juga dari pesantren," pungkasnya. (*)