26 Sep 19:55

Sabtu Minggu Libur Sekolah, Kebijakan Lama di Purwakarta

Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy yang akan menetapkan hari Sabtu dan Minggu sebagai libur nasional bagi siswa sekolah ternyata sudah lama diterapkan di Kabupaten Purwakarta. Semenjak kabupaten ini dipimpin oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi pada Tahun 2008, falsafah kearifan lokal langsung diterjemahkan ke dalam kebijakan di berbagai bidang termasuk bidang pendidikan.

Saat pertama kali menerapkan kebijakan sekolah lima hari, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengemukakan alasan dibalik pemberlakuan kebijakan tersebut. Pria yang selalu mengenakan iket khas Sunda ini berujar pelajar harus memiliki waktu yang cukup untuk bercengkrama bersama keluarga. Sehingga pendidikan informal dalam hal ini didapat oleh pelajar melalui transformasi nilai yang dilakukan oleh para orang tua mereka di rumah.

“Kita sejak Tahun 2008 melakukan itu. Jam mata pelajaran di sekolah kita padatkan, masuk jam 6 pagi serentak di seluruh sekolah baik desa maupun kota. Sementara jadwal pulang, anak – anak yang bersekolah di desa pulang jam 11 siang, anak – anak yang bersekolah di kota pulang jam 12 siang. Waktu bersama keluarga menjadi lebih banyak”. Kata Dedi saat ditemui di rumah dinasnya Jl Gandanegara No 25 Purwakarta.

Bukan hanya pengurangan jam pelajaran di sekolah yang sudah diberlakukan oleh Bupati yang akrab disapa Kang Dedi tersebut. Kali ini, Dedi memiliki gagasan agar mata pelajaran di sekolah juga dikurangi. Dia beralasan, sisi aplikatif dari nilai-nilai akademik jauh lebih penting daripada sekedar mempelajari sisi teoritiknya.

“Kalau Bapak Mendikbud mengizinkan, kami di Purwakarta akan mengurangi jumlah mata pelajaran. Ini sudah terlalu banyak dan tidak efektif untuk perkembangan generasi kita ke depan. Misalnya untuk tingkatan Sekolah Dasar cukup diajarkan ‘Calistung’ (Baca, Tulis, Hitung) saja. Lain-lainnya bisa langsung diajak praktik, jadi disampaikan tidak dalam bentuk teorinya”. Kata Dedi menambahkan.

Dedi mencontohkan mata pelajaran yang lebih mengarang pada sisi aplikatif adalah Pendidikan Kewarganegaraan. Anak-anak sekolah dapat langsung diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan vandalisme dan diajak untuk membangun kebiasaan-kebiasaan positif lain yang mencerminkan karakter manusia Indonesia.

“Salat juga diajarkan sambil praktik, mengaji juga begitu. Ujiannya kan bisa menyesuaikan. Nanti bisa sejalan antara pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan. Keduanya dimunculkan dalam keseharian,  bukan hanya salah satu”. Pungkas Dedi.

Selain kebijakan sekolah lima hari. Purwakarta juga membolehkan pelajar di wilayahnya untuk membawa bantal ke sekolah dan boleh tidur saat istirahat berlangsung. (*)