30 May 16:03

Sate Maranggi, dari Purwakarta Mendunia

Sate maranggi telah lama dikenal sebagai salah satu kuliner khas Purwakarta. Beberapa tahun terakhir ini nama sate maranggi sebagai ikon kuliner Purwakarta kian meroket. Hal itu berkat upaya serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta untuk mempromosikannya. Kini ketika mendengar kata maranggi orang akan ingat Purwakarta, begitu juga sebaliknya. Dampak positifnya mulai bisa dirasakan langsung oleh pelaku usaha sate marangi di Purwakarta.

Image by: Faisal Rajo Rangkayo

Selain di wilayah Purwakarta dan sekitarnya, sate maranggi juga bisa ditemui di daerah Cianjur, namun sate maranggi khas Purwakarta berbeda dengan sate maranggi khas Cianjur. Perbedaan paling jelas adalah sate maranggi Cianjur disajikan dengan sambal oncom, dan biasanya disantap bersama ketan bakar. Dagingnya menggunakan daging sapi yang sudah dibumbui, dengan rasa ketumbar yang menonjol. Sementara maranggi Purwakarta, umumnya menawarkan dua pilihan daging sapi atau daging kambing, dan disajikan dengan kecap, dan sejenis acar sambal tomat.

Di Purwakarta sendiri, pedagang sate maranggi banyak dijumpai dari kelas resto hingga pedagang gerobak keliling. Salah satu yang terkenal ada di daerah Cibungur. Lokasi nya mudah dicapai, dari pintu keluar tol Jakarta-Cikampek di Cikopo , sekitar dua kilometer arah purwakarta, anda akan menemukan satu tempat yang selalu ramai oleh pengunjung, namanya Sate Maranggi Cibungur. Tempatnya sederhana, semi terbuka dengan hanya beratap asbes namun cukup luas, terletak di sela-sela sisa hutan jati di pinggiran jalan raya Cibungur.

Image by: ard!

Meski terkesan apa adanya, tetap saja orang mengalir datang ke tempat ini, untuk menikmati Sate Maranggi dan Es Kelapa Muda. Sate Maranggi Cibungur telah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Tempat ini sempat terkena dampak saat jalan Tol Sadang (Cipularang) baru dibuka, namun hanya surut sekitar tiga bulan rumah makan ini mampu kembali berkibar.

Keistimewaan sate maranggi Purwakarta, terletak pada dagingnya yang empuk, dan bumbu yang lebih meresap karena setelah daging dipotong-potong kecil, daging terlebih dulu dibalur dengan bumbu secara merata, baru kemudian ditusuk dan didiamkan sampai waktunya dibakar saat ada pesanan. Proses ini fungsinya mirip dengan marinasi (proses perendaman daging dalam cairan berbumbu),namun tidak direndam hanya dilumuri.

Ano (30), salah satu pramusaji di Sate Maranggi Cibungur, ketika ditemui redaksi, senin (3/1/2016) mengaku tidak tahu detail apa saja komponen bumbu yang digunakan. Namun, secara umum ada paduan rasa kecap manis dan gula jawa, yg juga dipadu dengan asam jawa dan beberapa bumbu tradisional.

Setelah dibakar, sate disajikan dengan kecap dan kondimen berupa acar sambal tomat yang dihasilkan dari cincang bawang tajam, cabe rawit, dan irisan tomat yang diulek kasar ditambah sedikit cuka lahang. Rasanya hmm.., paduan daging empuk yg manis gurih, terasa lebih segar ketika dicocol kecap dan acar sambal tomat yang asam dan pedas.

1 Ton Daging Perhari Saat Musim Liburan

Ano mengatakan, biasanya dalam sehari Sate Maranggi Cibungur bisa menjual hingga 2 kuintal daging sapi. Bahkan, jika hari libur penjualan bisa mencapai lebih dari satu ton daging. “Sehari minimal dua kuintal lah, kalo marema seperti hari libur natal dan tahun baru kemarin bisa sampai 1 ton lebih,” kata Ano.

Ano menjelaskan, penjualan juga terasa makin meningkat sejak Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi gencar mempromosikan sate maranggi ke tingkat nasional. “Alhamdulillah Pak Dedi juga ikut mempromosikan sate maranggi setiap kali berkunjung kemana-mana. Dari situ juga membuat sate maranggi ini jadi terkenal dan akhirnya banyak yang berkunjung ke sini,” jelas Ano.

Pemkab Purwakarta memang telihat serius mengembangkan potensi kuliner khas Purwakarta ini. Bahkan Pemkab Purwakarta sering menggelar acara khusus untuk mengenalkan sate maranggi ke tingkat nasional dan internasional. Event terakhir ialah Festival Steak Maranggi yang digelar di Jalan KK Singawinata Purwakarta pada Sabtu 5 Desember 2015.

Selain menggelar event-event spesial, Pemkab Purwakarta juga melakukan upaya lain untuk bisa menjadikan sate maranggi go international. Seperti melakukan pendataan seluruh warung atau tukang sate yang tersebar di sejumlah kecamatan, membuat standadisasi sate maranggi termasuk standardisasi tempat penjualan, hingga melibatkan konsultan periklanan untuk memuluskan rencana sate maranggi go international.

Dengan gencarnya promosi, penjualan terhadap sate maranggi di Purwakarta pun meningkat. Hal ini membawa keberkahan tersendiri bagi masyarakat Purwakarta. Ano mengakui peningkatan penjualan sate maranggi membuat tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tempatnya berdagang juga ikut meningkat. Minat masyarakat Purwakarta terhadap wirausaha pun ikut meningkat.

Tag