23 Aug 17:08

Sejak 2008, Pelajar Purwakarta Biasakan Shalat Dhuha

Konsep Pendidikan Berkarakter telah diberlakukan di Purwakarta sejak Tahun 2008 silam. Aneka macam program pendidikan telah digulirkan untuk menunjang implementasi konsep tersebut, diantaranya adalah Pembiasaan Shalat Dhuha bagi seluruh pelajar yang beragama Islam di seluruh sekolah di kabupaten tersebut.

Sebelum jam pelajaran yang sudah ditetapkan dalam kurikulum dimulai, para pelajar di Purwakarta terlebih dahulu melaksanakan Shalat Dhuha dengan bimbingan guru di sekolah setempat. Pembiasaan ini sebenarnya dimulai sejak Pukul 06.00 WIB sesuai dengan jam masuk sekolah yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten setempat, setelah tadarus Al Qur’an selama 15 menit yang dilanjutkan dengan membersihkan kelas selama 15 menit pula, para pelajar dibimbing oleh guru untuk bersama-sama melaksanakan Shalat yang dipercaya dapat mendatangkan rezeki tersebut.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat ditemui hari ini Senin (31/10) di rumah dinasnya Jl Gandanegara No 25 mengungkapkan alasan dirinya memberlakukan kebijakan pembiasaan tersebut. Bupati yang tengah menjalani masa jabatan untuk periode yang kedua ini mengatakan dalam kaidah keilmuan terdapat dua unsur utama yang tidak bisa dipisahkan.

Pertama menurut dia adalah kaidah ilmu yang diperoleh secara material melalui perantara guru, alat peraga mata pelajaran, dan metoda klasikal yang selama ini dijalankan. Sementara yang kedua adalah kaidah ilmu yang diperoleh secara spiritual melalui proses transendensi yang dijalani oleh pelajar di sekolah sehingga melahirkan transformasi energi dalam ruang batin para pelajar.

“Kalau ini tidak dilakukan, maka nalar spiritual anak-anak kita tidak akan pernah bisa terasah. Kelemahan sistem pendidikan kita ini kan tidak aplikatif, jadi cara ini kami tempuh agar pelajar mampu menangkap pelajaran dalam suasana kebatinan yang nyaman”. Jelas Dedi.

Dedi menambahkan, terdapat dua hal yang menjadi tujuan pemberlakuan kebijakan ini. Pria yang akrab disapa Kang Dedi tersebut menegaskan bahwa setiap pelajaran di sekolah harus berujung pada proses ‘tafakkur’ dan ‘tadabbur’. Sehingga ada benefit yang diperoleh pelajar dalam setiap mata pelajaran yang diterimanya.

“Untuk membukakan hati pelajar kita agar mampu menerima pelajaran, orang Sunda menyebutnya ‘Sampurasun’, memohon dibukakan pintu, secara lahiriah tentu saja pintu rumah, tetapi secara maknawi itu maksudnya pintu hati”.

“Setelah pintu hati terbuka melalui Shalat Dhuha maka seluruh proses pembelajaran akan menghasilkan tafakur, instrospeksi diri ke dalam relung hati pelajar, orang tua kita dulu mengenal istilah Tapa Brata, berdiam diri di ruang sempit, melakukan pencarian hakikat diri. Kemudian setelah itu dari pelajaran yang diperoleh pelajar maka lahir Tadabbur, interaksi pelajar dengan lingkungannya, dalam dunia akademik ini dikenal dengan riset atau penelitian”. Kata Dedi menambahkan.

Pembiasaan Shalat Dhuha yang dimulai pada Jam 06.30 WIB setiap pagi menurut Dedi pun memiliki nilai kerja keras karena dilakukan saat menyongsong matahari. Ia meyakini rezeki berupa Ilmu akan diperoleh para pelajar Purwakarta jika konsisten menjalankan Shalat Dhuha.

“Iya konsisten dijalankan, karena dari rezeki ilmu itu kan kelak kita peroleh rezeki material juga. Bagi non muslim, tentu ada ruang untuk itu, silakan menjadikan pagi hari sebagai ruang kontemplatif agar diri kita siap menerima pelajaran”. Pungkas Dedi.

Nuansa religi tampak di SDN 1 Cibatu hari ini, para siswa terpantau mengenakan busana untuk Shalat bersiap melaksanakan Shalat Dhuha. Salah seorang siswa, Ali (8), siswa kelas 2 di sekolah tersebut mengaku setiap hari dirinya membawa peralatan shalat. Ia mengaku gembira dapat menjalankan Shalat tersebut bersama kawan-kawannya yang lain.

“Sama Pak Guru diminta bawa alat Shalat, Senang bersama teman-teman bisa Shalat bareng”. Ujar Ali polos. (*)