IP Address

Komentar  


Menyimak Kampung Monyet Hingga Keramik Di Purwakarta

2018-01-31 07:29:31

KOMPAS.com – Gerombolan monyet liar dari hutan di kawasan perbukitan Jatiluhur dan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, turun gunung. Mereka diperkirakan mencari makanan akibat habisnya cadangan makanan di hutan. Hutan memang makin “bondol” terutama lantaran alih fungsi lahan menjadi perkebunan warga.

 

“Macam-macam Pak, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Kami sebenarnya takut, apalagi jika sudah menyerang perempuan. Solusinya rumah kami dipasang teralis besi saja,” ujar Indra (32), seorang warga, Senin (5/12/2016).

 

Menanggapi hal itu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa perubahan fungsi daerah yang menjadi habitat monyet menjadi penyebab utama turunnya kawanan hewan liar itu ke permukiman penduduk. Untuk itu, dirinya akan menjadikan hutan tersebut sebagai kawasan konservasi.

 

“Peraturannya dibuat hari ini. Ke depan, hutan ini menjadi kawasan konservasi dan disiapkan menjadi salah satu destinasi wisata. Jadi, kampung monyet,” tuturnya.

 

Untuk itu, pihaknya akan mengembalikan perkebunan menjadi hutan. Nantinya, hutan seluas 18 hektare itu akan membuat monyet betah dan tidak mengganggu atau diganggu manusia.

 

Sebagai kompensasi terhadap warga, Dedi akan mengirim 20 orang untuk ikut pelatihan ke daerah yang memiliki ikon wisata serupa, seperti Monkey Forest di Bali.

 

“Seperti di Uluwatu, Bali. Nantinya, warga sekitar akan dilibatkan dan dilatih cara mengelola lingkungan dan menjadi daerah wisata,” kata Dedi.

 

Infrastruktur berupa saung bambu dan penanaman tanaman buah pun segera dilakukan Pemkab Purwakarta. Itu bertujuan untuk menciptakan habitat yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan monyet.

 

Bukan hanya kampung monyet. Pemkab Purwakarta sudah lebih dulu memiliki beberapa kampung wisata di daerahnya.

 

Sebut saja Kampung Keramik di kawasan Plered atau kampung wisata pertanian yang dikenal dengan ‘Kampung Tajur Purwakata’. Atau, beberapa kampung wisata yang tengah disiapkan infrastrukturnya.

 

“Ada Kampung Gula di Cikeris, Kampung Peuyeum (tape) di Sukatani, Kampung Nelayan di Cikao Bandung,” ujarnya.

 

Kampung-kampung tersebut akan diluncurkan bertahap hingga Maret 2017. Anggaran yang disiapkan untuk membangun infrastruktur sebesar Rp5 miliar.

 

“Seperti Kampung Monyet ini, nantinya sebagai pintu masuk dari lokasi wisata Sukasari yang sudah disiapkan jauh-jauh hari,” tuturnya.

 

Di Sukasari itu misalnya, lanjut Dedi, pihaknya menyediakan berbagai wisata mulai dari ikan tangkapan, danau, hutan, wisata tebing, rumah-rumah alam berarsitektur Sunda, dan lainnya.

 

“Setelah fokus di bidang pertanian dan infrastruktur beberapa tahun ini, sekarang kami lebih serius menggarap pariwisatanya,” ucap lelaki yang berhasil membangun Air Mancur Sri Baduga tersebut. 

 

Dedi meyakinkan, beberapa lokasi wisata yang segera diluncurkannya akan memberikan kejutan luar biasa dan dinantikan banyak orang. Wisata yang kebanyakan berbasis lingkungan, budaya, dan karakteristik daerah setempat ini dijamin menggaet pelancong dalam dan luar negeri.

Berita

Gebrakan Bupati Purwakarta Atasi Masalah Sampah

...

Perpustakaan ‘Zaman Now’ ala Purwakarta, Digitalisasi Koleksi Buku

...

Wujudkan Pemilu Damai, Bupati Purwakarta : Jangan Ada Konflik Karena Beda Pilihan

...

Purwakarta Segera Miliki Bioskop Terapung Lengkap dengan Kuliner Sunda

...

Pojok Purwakarta

Profil Industri Purwakarta

Pada aspek letak, Kabupaten Purwakarta berada p...

Perekonomian Purwakarta

Purwakarta, sebuah kabupaten yang masyarakatnya...

Sejarah Purwakarta

Tempat yang mulai ramai, begitu arti nama Purwa...

Sosial Budaya

Seperti pada umumnya masyarakat yang berdomisil...