Purwakarta - Perjalanan Touring roda dua menuju Yogyakarta yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM berubah menjadi momen penuh haru sekaligus inspiratif. 

Saat melintasi wilayah Wonosobo, kehadiranya yang dikenal merakyat ini langsung disambut antusiasme luar biasa oleh warga yang memadati kawasan pasar setempat.

Di tengah riuhnya kerumunan, sebuah pertemuan tak terduga terjadi. KDM dihampiri oleh seorang bapak paruh baya yang menceritakan kisah hidupnya. Dengan raut wajah penuh kebanggaan, bapak tersebut mengaku sehari-hari bertahan hidup dengan tekun mengelola sektor pertanian. 

Dedikasi tinggi dan kegigihan sang bapak dalam menjaga ketahanan pangan keluarga langsung mengetuk hati KDM.

Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras bapak petani tersebut, KDM spontan memberikan bantuan dana tunai yang dikhususkan untuk membelikan peralatan sekolah anak sang petani. 

Namun, ada pemandangan menarik dalam aksi sosial kali ini. KDM tidak menyerahkannya sendiri, melainkan memerintahkan Bupati Purwakarta, Om Zein, yang saat itu mendampinginya, untuk menyerahkan bantuan tersebut.

Menebus Kesalahan Lewat Sanksi Sosial yang Mulia

Keterlibatan Om Zein dalam aksi ini bukan tanpa alasan. Belakangan ini, nama Bupati Purwakarta tersebut tengah menjadi sorotan tajam publik akibat kontroversi lagu ciptaannya yang berjudul "Lalaki Langit Lalanang Bejad". Lagu tersebut menuai kecaman dan dinilai kurang pantas oleh sebagian masyarakat, hingga berujung pada sanksi sosial yang dijatuhkan langsung oleh KDM.

Adapun sanksi sosial yang harus dijalani Om Zein terbilang unik sekaligus berat. Beliau diwajibkan untuk:

* Merenovasi atau membangun kembali 10 rumah wanita yang berstatus janda.

* Menanggung seluruh biaya sekolah anak-anak dari keluarga tersebut.

Menariknya, dalam implementasi di lapangan, Om Zein justru melampaui batas hukuman yang diberikan. Konteks pelaksanaan sanksi mulia ini ternyata tidak hanya menyasar kaum janda. 

Om Zein memilih membuka pintu kebaikan lebih lebar dengan membantu siapa saja masyarakat yang benar-benar membutuhkan, tanpa memandang status sosial.

Pengalaman berharga di Pasar Wonosobo ini turut dibagikan oleh Om Zein melalui akun media sosial pribadinya. Unggahan tersebut langsung disorot oleh tim redaksi Kesatu dan menuai banyak respons positif dari netizen yang melihat sisi humanis di balik sebuah hukuman.

Dalam caption postingannya, Om Zein menuliskan refleksi mendalam mengenai teguran yang ia terima:

"Berkah dari sanksi atau hukuman ada satu orang tua yang bisa membeli alat kelengkapan sekolah anaknya, ini terjadi saat KDM mampir di pasar Wonosobo sewaktu perjalanan ke Jogja naik motor roda dua," tulis Om Zein.

Langkah ini menunjukkan sikap ksatria seorang pemimpin yang mau mengakui kesalahan dan mengubah hukuman menjadi ladang kemanfaatan bagi masyarakat luas.

Pelajaran Berharga dari Jalanan

Perjalanan touring KDM ke Yogyakarta kali ini bukan sekadar agenda rekreasi, melainkan ruang refleksi dan pembuktian bahwa politik kemanusiaan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. 

Di satu sisi, ketegasan KDM dalam menegakkan etika lewat sanksi sosial terbukti efektif. Di sisi lain, respons Om Zein yang berlapang dada menerima hukuman bahkan memperluas jangkauan bantuannya menjadi contoh bagaimana sebuah kekhilafan bisa ditebus dengan aksi nyata yang berdampak langsung bagi rakyat kecil.

Kini, kisah dari Pasar Wonosobo ini menjadi pengingat bahwa di balik kontroversi yang sempat memanas, selalu ada ruang untuk memperbaiki diri dan menebar berkah bagi sesama yang membutuhkan. (Diskominfo Purwakarta)